Married By Accident

“Miris sekali. Jaman sekarang ini, banyak anak yang terlahir prematur. Misalnya, baru dua bulan menikah tapi sudah melahirkan.”

Dosen saya itu berkomentar di tengah-tengah penyampaian materi tentang pernikahan. Awalnya kelas tenang. Tak ada satu pun yang bercakap satu sama lain. Semua mendengarkan, tapi saat komentar itu keluar, mendadak semua terlihat senyum-senyum meresponnya. Ada yang sempat mengomentari,

“Hamil duluan kali, Pak?”

Saya mengerti maksud komentar tadi. Prematur dalam hal ini bukanlah bayi yang lahir dengan usia kandungan kurang dari 9 bulan, sehingga perlu diberikan perawatan khusus untuknya. Yang dimaksud prematur di sini adalah jangka waktu untuk hamil sekaligus melahirkan setelah menikah yang tidak normal. Contoh dalam kasus di atas yaitu dalam waktu 2 bulan. Secara logika, itu mustahil.

Mereka menikah adalah untuk menutupi kehamilan yang tak diinginkan. Kita menyebutnya MBA —Married by Accident. Sehingga untuk menutupi aib tersebut keduanya menikah.

“Sedih, saya lihat mereka,” begitu komentar dosen saya.

Kita jangan menutup mata mengenai hal ini. Apalagi sampai beranggapan hal itu sudah biasa terjadi. Sungguh memilukan melihat betapa kian tolerannya masyarakat dengan perzinaan. Bahkan rasa malu sepertinya menjadi sesuatu yang tak lazim lagi. Perzinaan seakan hanya menjadi masalah privat. Toh, tak ada pihak yang ‘merasa’ dirugikan. Keduanya melakukan atas kemauan sendiri.

Harus diluruskan!

Jelas, di dunia dan akhirat mereka akan merugi. Kedepannya, untuk membangun keluarga yang sakinah usai pernikahan akan sulit. Yang mendasari mereka untuk menikah adalah nafsu, bukan karena Allah SWT. Belum lagi, tak ada orientasi akhirat. Semangat mewujudkan keluarga yang Islami hanya akan menjadi mimpi semu.

  • Membangun kecintaan terhadap ilmu dan dakwah
  • Merawat cinta kasih sesama keluarga, cinta kepada Nabi, dan cinta kepada Al-Quran
  • Melaksanakan kegiatan ibadah bersama
  • Membangun kepekaan sosial dan cinta lingkungan

Pada akhirnya yang menjadi korban adalah si anak. Masih berdalih, tak ada pihak yang dirugikan?

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” QS 17:32

Karawang, 19 Dzulhijah 1433 H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s