Pulpen Bocor

|05.00 am

Di sebuah pagi yang matahari pun masih terlelap, berselimut awan-awan tebal dalam peraduannya. Di sebuah pagi yang burung-burung pun masih bergumul dalam sangkar mereka. Di Universitas Singaperbangsa yang mendadak ramai lalu-lalang bak pasar pagi.

Kala itu ribuan calon mahasiswa baru berbaju hitam putih tersebar. Ada yang tertahan di pintu gerbang karena lelet, ada yang tertahan di jalan karena ke-pergok mengendarai sepeda motor, ada pula yang sedang dipangkas rambutnya, ada yang disuruh jongkok, skot jump,  dan ada juga yang memunguti sampah.

“Tulis nama, alamat dan motto hidup kalian!”

“Cepaatt…!!!”

“Cepat! Cepat!”

Itu adalah perintah senior kepada Akademika yang belum lengkap atributnya, termasuk saya. Kami disuruh untuk menuliskan data kami pada selembar kertas karton berwarna yang menjadi id card kami. Kertas tersebut diikat dengan empat pita berwarna untuk selanjutnya dikalungkan ke leher.

Dari semuanya, ada beberapa yang belum menuliskannya. Saya meminjam pulpen ke peserta ospek yang lain. Alhamdulillah, ada ikhwan yang berkenan meminjamkan. Hanya saja sikapnya sedikit tidak wajar: ia menyimpan pulpen yang baru digunakan dan mengambil pulpen lain dalam tasnya untuk diberikan pada saya.

Saya belum sempat menanyakan namanya, tapi saya ingat wajah, tas ransel serta warna id card yang ia kenakan. Ia dari Fakultas Hukum. Saya akan mengembalikan jika ada kesempatan bertemu nanti.

Tak lama kemudian, barulah saya menyadari ada yang tak wajar dari pulpen yang saya pinjam. Pulpen itu bocor. Tintanya menempel dimana-mana: di tangan, id card, bahkan ada yang mengenai baju putih saya.

“Hey, kamu! Kamu!”

“Cepaatt!!”

Saya terkesiap. Saya berlari menyusul barisan yang ditunjuk tak jauh di depan saya. Alih-alih berbaris, bola mata saya sekali-kali mencari ikhwan yang meminjamkan pulpen tadi, tapi nihil. Saya tak melihatnya lagi.

Agak disesalkan, bila kebaikan orang lain yang kita anggap akan membantu, tapi malah yang terjadi adalah sebaliknya. Hati manusia, ikhlas atau tidak hanya Allah yang tahu. Padahal kan saya hanya meminjam bukan meminta. Dan kalau mau memberi, hendaknya memberi dengan yang pantas. Walaupun hanya se-harga sebuah pulpen, bila ikhlas akan bernilai sedekah.

Huh!

Namun, saya harus tetap menghargai dan berterima kasih atas bantuannya. Karena dari id card yang semula polos, kini telah berisi data lengkap saya meskipun banyak noda tinta. Tentu saja, saya atau siapapun tak boleh dan tak berhak menghakimi. Meskipun jika dibenarkan, ingin sekali saya MARAH padanya.

Infakkanlah sebagian hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu keluarkan, padaha kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Ketahuilah bahwa Allah Mahakaya, Maha Terpuji. QS. 2:267

Karawang, 03 Muharram 1434

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s