Mengeja Hijaiyah di Kedungwuluh

Namaku Fajar, aku lahir dengan selamat dari perut seorang ibu sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara. Ya, hidup dalam keluarga besar. Rame banget. Kata ayah, “Banyak anak banyak rejeki.”

Iya deh….

Waktu kecil, aku belajar mengaji saat umur tujuh tahun. Tepatnya, setelah aku dimasukan ke sekolah Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah di Kedungwuluh. Aku masuk sekolah, tapi belum bisa baca tulis, apalagi mengaji… masih NOL gede. Makanya, setelah mendaftar ke sekolah, aku pun langsung digelandang orangtua ke mushola terdekat. Ya, aku dipasrahkan begitu saja kepada salah-satu guru ngaji di kampung tanpa diberi kesempatan untuk memilih yang lain.

Berhubung fasilitas di mushola terbatas, ibu membelikan aku buku Iqra sendiri. Itu adalah buku pertama yang ibu belikan, bukan buku tulis, buku cerita, atau buku yang lain. Tapi Iqra, sebuah buku untuk belajar membaca huruf hijaiyah, seperti Alif, Ba, Ta dan seterusnya. Baru belajar mengaji sebentar, guru mengajiku menikah. Mungkin karena sibuk mengurus keluarga, aku dan yang lain pun terabaikan. Tak ada suara merduku mengaji lagi di mushola.

Hilang!

Aku pun pindah tempat mengaji, letaknya lumayan jauh: melewati sawah, melewati sungai, melewati kebun mirah, dan barulah sampai di Masjid Ar-Rahman. Masjid terbesar di Kedungwuluh.

Ada satu peristiwa yang sampai detik ini masih kuingat. Ketika pertama kali mengaji di masjid itu, aku mengulang kembali Iqra dari awal: Alif, Ba, Ta… dan seterusnya. Berhubung aku sudah hafal, aku pun membaca dengan cepat, tanpa hambatan yang berarti. Tapi ternyata, Bu Ustadzah malah menarik telingaku. Aku disuruh mengulang kembali keesokannya. Aku membaca terlalu cepat, Bu Atun bilang, “Membaca Iqra ada aturannya, meskipun baru Alif-Ba tanpa harakat yang panjang, bukan berarti kamu buru-buru membacanya.”

Aku baru tahu maksud perkataannya, setelah hijrah dari buku Iqra jilid I ke jilid berikutnya. Apalagi setelah merambah ke Al-Quran. Tak boleh asal cepat tanpa memperhatikan panjang pendek harakat, karena dapat merubah arti.

Mungkin hanya ini, ceritaku seputar mengaji dulu. Semoga ada manfaat yang dapat diambil dari cerita ini. Terima kasih.

Note: Juara menulis “Pengalaman Belajar Mengaji Mizan 2012”

mengaji iqra 1

Karawang, 04 Safar 1434 H

***

2 thoughts on “Mengeja Hijaiyah di Kedungwuluh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s