Hukum Merayakan Tahun Baru Masehi

Tahun Baru 2014

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Sobat Dhia.. beberapa hari lagi kita akan menyaksikan perayaan besar! Perayaan yang dilangsungkan secara serentak oleh masyarakat di seluruh dunia. Yup, yaitu perayaan tahun baru 2014! Perayaan seperti ini memang biasa secara rutin disambut dan dimeriahkan dengan berbagai acara dan kemeriahan. Serru!

Pertanyaannya adalaah.. boleh gak sih kita sebagai umat Islam ikutan merayakannya? Membaur dengan yang lain menikmati festival hiburan dan indahnya langit dengan semarak cahaya kembang api.. atau ikut kegiatan di masjid-masjid untuk doa bersama, istighatsah, renungan malam, tafakkur alam dsb?

Bagaimana ya? Yuk cekdisaut!

Sejarah Tahun Baru Masehi

Ternyataa.. perayaan tahun baru Masehi memiliki sejarah puanjangg, Sob! Masalahnya.. banyak di antara orang-orang yang ikut merayakan hari itu gak tahu kapan pertama kali acara tersebut diadakan dan latar belakang mengapa hari itu dirayakan. Duh, Indonesiaku! Padahal itu merupakan pesta warisan dari masa lalu yang dahulu dirayakan oleh orang-orang Romawi.

Mereka mendedikasikan hari yang istimewa itu untuk seorang dewa yang bernama Janus, The God of Gates, Doors, and Beeginnings. Janus adalah seorang dewa yang memiliki dua wajah, satu wajah menatap ke depan dan satunya lagi menatap ke belakang, sebagai filosofi masa depan dan masa lalu, layaknya momen pergantian tahun. (G Capdeville. “Les épithetes cultuels de Janus” inMélanges de l’école française de Rome (Antiquité), hal. 399-400)

Jadi.. fakta ini menyimpulkan bahwa perayaan tahun baru Masehi sama sekali bukan berasal dari budaya kaum muslimin! Pesta tahun baru Masehi, pertama kali dirayakan orang kafir, yang notabene masyarakat paganis (kebehalaan) Romawi.

Ahya, berikut ini adalah uraian mengenai hukum merayakan tahun baru Masehi bagi umat Islam. Sebagian mengharamkan dan sebagian lainnya membolehkannya dengan syarat.   Cekidot!

Pendapat yang Mengharamkan

Mereka yang mengharamkan perayaan malam tahun baru masehi, berhujjah dengan beberapa argumen.

Pertama, turut merayakan tahun baru sama dengan tasyabbuh atau meniru kebiasaan orang kafir. Ih, gak banget donk! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita untuk tasyabbuh atau meniru kebiasaan orang kafir. Beliau bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Siapa yang meniru kebiasaan satu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut.” (Hadis shahih riwayat Abu Daud)

Kedua, perayaan tahun baru penuh kemaksiatan dan lebih banyak mudharat daripada manfaatnya. Yaiyalah! Demi menunggu momen itu orang-orang rela menghambur-hamburkan dana secara mubazir untuk pesta kembang api, festival hiburan yang berbaur pria dan wanita, perzinaan dan pesta maksiat lainnya.

Tak sedikit waktu, dana, tenaga dan pikiran yang dibuang percuma demi tahun baru. Padahal Allah SWT memperingatkan bahwa para pemboros itu adalah saudaranya syaitan yang sangat ingkar kepada Tuhan. Dalam Qs Al-Isra’ ayat 26-27 Allah berfirman,

وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا ☼  إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا ☼

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra’: 26-27)

Hmm.. makanya mengharamkan perayaan malam tahun baru Masehi buat umat Islam adalah upaya untuk mencegah dan melindungi umat Islam dari pengaruh buruk yang lazim dikerjakan para ahli maksiat.

Ketiga, perayaan malam tahun baru adalah bid’ah. Anyway, syariat Islam yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah syariat yang lengkap dan sudah tuntas. Tidak ada lagi yang tertinggal.

Sedangkan fenomena sebagian umat Islam yang mengadakan perayaan malam tahun baru Masehi dengan menggelar ibadah ritual tertentu, tanpa alasan lain kecuali karena datangnya malam tahun baru, adalah sebuah perbuatan bid’ah yang tidak pernah dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para shahabat dan salafus shalih. Karena tidak ada landasan syar’inya.

Pendapat yang Menghalalkan

Sobat Dhia.. ternyata pendapat yang menghalalkan berangkat dari argumentasi bahwa perayaan malam tahun baru Masehi gak selalu terkait dengan ritual agama tertentu. Semua tergantung niatnya. Kalau diniatkan untuk beribadah atau ikut-ikutan orang kafir, maka hukumnya haram. Tetapi gak diniatkan mengikuti ritual orang kafir, maka gak ada larangannya.

Hal ini mengambil perbandingan dengan liburnya umat Islam di hari natal. Kenyataannya setiap ada tanggal merah di kalender karena natal, tahun baru, kenaikan Isa, paskah dan sejenisnya, umat Islam pun ikut-ikutan libur kerja dan sekolah. Bahkan bank-bank syariah, sekolah Islam, pesantren, departemen Agama RI dan institusi-institusi keIslaman lainnya juga ikut libur. Apakah liburnya umat Islam karena hari-hari besar kristen itu termasuk ikut merayakan hari besar mereka? Ih, gak dong! Umumnya kita akan menjawab bahwa hal itu tergantung niatnya.

Kalau cuma libur gak bisa dikatakan sebagai ikut merayakan, lha wong pemerintah memang meliburkan, ya kita ikut libur saja. Tapi niat di dalam hati sama sekali gak untuk merayakannya ya.

Adapun kebiasaan orang-orang merayakan malam tahun baru dengan minum khamar, zina dan serangkaian maksiat, tentu hukumnya haram. Weuw! Namun bila yang dilakukan bukan maksiat, tentu keharamannya gak ada. Misalnya, umat Islam memanfaatkan even malam tahun baru untuk melakukan hal-hal positif, seperti memberi makan fakir miskin, menyantuni panti asuhan, membersihkan lingkungan dan sebagainya. Yang haram adalah maksiatnya, bukan merayakan malam tahun barunya.

Demikianlah ringkasan singkat tentang perbedaan pandangan dari beragam kalangan tentang hukum umat Islam merayakan malam tahun baru.

Jalan Tengah Perbedaan Pendapat

Jamaah oh jamaah! Lepas dari dua kutub perbedaan pendapat ini, paling gak buat kita umat Islam yang bukan orang Barat, perlu rasanya kita mengevaluasi dan berkaca diri terhadap perayaan malam tahun baru.

Pertama, biar bagaimana pun perayaan malam tahun baru gak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Eksakleh.. kalau dikerjakan gak ada pahalanya, bahkan sebagian ulama mengatakannya sebagai bid’ah dan peniruan terhadap orang kafir.

Kedua, gak ada keuntungan apapun secara moril maupun materil untuk melakukan perayaan itu. Hayoo ngaku.. umumnya hanya sekedar latah dan ikut-ikutan, terutama buat kita bangsa timur yang sedang mengalami degradasi pengaruh pola hidup western. Bahkan seringkali malah sekedar pesta yang membuang-buang harta secara percuma.

Ketiga, bila perayaan ini selalu dikerjakan akan menjadi sebuah tradisi tersendiri, dikhawatirkan pada suatu saat akan dianggap sebagai sebuah kewajiban, bahkan menjadi ritual agama. Yang ini parahhh! Padahal perayaan itu hanyalah budaya impor yang bukan asli budaya bangsa kita.

Keempat, karena semua pertimbangan di atas, sebaiknya sebagai muslim kita gak perlu mentradisikan acara apapun, meski tahajud atau mabit atau sejenisnya secara massal. Kalaulah ingin mengadakan malam pembinaan atau apapun, sebaiknya hindari untuk dilakukan pada malam tahun baru, agar gak terkesan sebagai bagian dari perayaan.

Wallahu a’lam bissawab… ^_^

Pondok Pesantren Modern Al-Mushlih, 23 Desember 2013.

***

Note: Dimuat di ANNIDA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s