Anak Taman

anak taman

Oleh: Dhia Fajar

Sore itu Nina bergegas pergi ke taman Galuh Mas, setelah sebelumnya beli satu bungkus kue kecil di Karawang Central Plaza –sebuah mall di dekat taman. Seperti biasa ia menyempatkan pergi ke taman tersebut untuk melepas penat. Sudah seharian ia menghabiskan waktu di kampus berjibaku dengan sederet mata kuliah.

Nina duduk di tempat biasa, di bawah pohon rindang tepat di pinggir taman. Dari tempat duduk itu, terlihat jelas seluruh isi taman kota. Tidak begitu indah, tapi disitulah orang-orang biasa berkunjung bersama teman atau keluarga untuk duduk ngobrol menghabiskan waktu mereka.

Nina pun mengambil bungkusan kuenya. Saat hendak mengeluarkan, tiba-tiba datang dua anak kecil berlarian di depannya. Nina lekas membatalkan niatnya. Mereka berlarian sambil bercanda riang, Nina melempar senyum ke arah mereka. Seorang ibu mengikuti dari belakang, mengenakan kaos oblong, celana pendek dan beralaskan sandal jepit. Penampilannya tampak sederhana.

“Ma, Neha mau beli makanan,” pinta si kecil.

“Belum ada uang. Nanti saja!”

“Nggak mau, Neha mau sekarang,” pintanya bersikukuh.

“Neha lapar,” tambahnya.

Si ibu mengeluarkan dua lembar ribuan dari dompet tangan yang digenggamnya. Si kecil tampak suka cita menerimanya, dia langsung berlarian bersama kakaknya menghampiri salah satu penjual kue di pinggiran taman. Anak itu membeli dua buah kue dan satu bungkus kue biskuit murahan.

“Ma, nanti Neha mau beli kue lagi.”

“Badru juga!”

“Neha mau yang lebih banyak.”

“Badru mau kue yang besar.”

Si ibu hanya menggeleng, lalu mengeluarkan sesuatu dari tas tangan yang dibawanya. Sebuah kayu pendek, yang dipaku dan diberi beberapa lembar tutup botol minuman ringan yang telah diratakan. Ibu itu menunjuk arah-arah tertentu, sembari membisikan sesuatu ke kedua buah hatinya. Keduanya pun bergegas pergi, ke arah mana saja yang ditunjukan ibunya. Mereka berjalan dari sekelompak orang ke lainnya yang berada di taman. Sembari memainkan benda yang diberi ibunya, bibir kedua bocah itu menyanyikan satu lagu yang diulang-ulang dari satu orang ke yang lainnya.

Mereka pengamen.

Nina tertegun, keluarga yang dia kira sedang menghabiskan waktu sore bersama itu ternyata adalah keluarga peminta-minta. Ternyata mereka sama seperti pengemis yang hidup dari belas kasihan orang lain.

Setelah selesai mengamen, kedua bocah itu kembali ke ibunya. Langkah mereka riang karena mereka kembali tidak dengan tangan kosong. Terkadang memang mereka mengamen tanpa memperoleh sepeser uang pun. Tapi kali itu tidak, ada beberapa uang ribuan ditangannya. Neha mendekat ibunya sembari membuka tangannya yang kecil. Ada uang tiga ribu rupiah yang mereka dapat. Ibunya langsung dengan sigap mengambilnya.

“Beli kue lagi kan, Ma?”

“Nanti, ngamen dulu lagi.”

Neha hanya cemberut kecewa. Nina pun teringat sesuatu. Sebelum ke taman ia sempat membeli sebungkus kue di Dunkin Donut. Dan ia belum sempat memakannya. Nina mengeluarkannya dari dalam tas, masih hagat, aromanya juga wangi. Nina pun memberikan bungkusan kue itu ke mereka. Bocah kecil itu terlihat sumringah begitu tahu kalau bungkusan itu berisi kue.

“Terima kasih, Kak kuenya.”

Nina hanya membalasnya dengan senyum, sembari berlalu dari mereka. Sementara kedua bocah itu langsung memakan kue-kue pemberiannya dengan lahap sekali. Sesekali bila ada pengunjung yang baru datang, si ibu langsung menyuruh kedua anaknya untuk bekerja. Mereka pun mengamen lagi.

***

Matahari mulai bersinar terik di langit. Padahal waktu baru menunjukan pukul sembilan pagi. Seperti biasa setiap hari Minggu, sepanjang jalan yang memisahkan antara Karawang Central Plaza dan Taman Galuh Mas berdiri pasar tumpah. Nina memberhentikan motornya di depan sebuah warung bubur langganannya. Tiap ia ingin makan bubur pasti perginya ke tempat itu, warung Yu Warsih. Enak soalnya, berbeda dari yang lain. Warung Yu Warsih lokasinya ada di pinggiran taman.

Pagi itu Nina sengaja mampir ke taman, tapi bukan untuk menghilangkan kepenatan seperti biasa. Kebetulan dia habis dari warnet mencari data tentang lembaga orang tua asuh yang ada di Karawang. Sekalian sarapan, makanya Nina mampir ke warung Yu Warsih. Suasananya nyaman, sesekali angin bertiup sepoi-sepoi. Semilirnya angin menenangkan pikirannya. Mata lelah habis berinternet seperti hilang begitu saja.

***

Lelaki itu duduk di motor, pakaiannya kumal. Celananya robek di bagian lututnya, entah karena sudah robek atau sudah dari modelnya. Telinganya ditindik, memakai gelang-gelang karet di pergelangan tangan. Lelaki itu memandangi seseorang yang baru datang ke taman. Ia langsung menarik adiknya yang sedang bermain dengan temannya.

“Warung Yu Warsih.”

“Nggak mau??”

“Ayoo…”

“Bang Juned dari tadi nggak ngamen…”

“Tadi ngamen, tai!!”

Dengan muka bersungut-sungut bocah kecil itu menurut. Ia bergegas pergi ke warung Yu Warsih. Air matanya hampir tumpah, tapi ditahannya. Di dalam warung terlihat seorang wanita dengan jilbab menutupi kepalanya. Cantik sekali. Dengan malu-malu bocah itu mulai bernyanyi dengan menepuk-nepuk kedua tangannya.

Nina yang sedang enak menikmati nyamannya suasana warung langsung memberinya senyum. Ia teringat akan Neha dan Badru, tapi itu bukan mereka. Ia segera mengambil uang di dompetnya, ada selembar uang kecil sisa kembalian dari warnet. Nina memberikannya ke bocah kecil itu sembari diiringi senyuman yang merekah dari bibirnya.

“Terima kasih, Ka.”

Bocah itu berlari kecil sembari melompat-lompat riang. Ia tidak menyangka dapat uang sebesar itu dari upah mengamen tadi. Selembar uang dua ribu rupiah! Itu adalah uang besar buatnya, karena biasanya ia hanya dapat uang  gopean tiap upah ngamennya.

“Kak, dapat dua ribu!”

Bocah kecil itu memberikan uangnya ke kakaknya. Ia pun lalu kembali bermain dengan temannya. Tak ada rasa kesal lagi habis bang Juned mengomel tadi. Ia seperti lupa begitu saja.

Nina pun sengaja mengintip keluar warung Yu Warsih. Dilihatnya seorang pemuda dekil sedang menghisap rokok sembari menghitung uang hasil ngamen adiknya. Sementara bocah kecil itu terlihat sedang asik bermain dengan yang lainnya. Mereka adalah anak usia sekolah. Tak boleh bekerja, seharusnya belajar di sekolah. Nina menghela nafas panjang, ada rasa prihatin di hatinya. Anak sekecil itu sudah ikut berjuang untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Anak sekecil itu sudah mengenal kerasnya hidup di jaman sekarang. Walau dari belas kasihan orang lain, tapi ia tampak ceria. Dia belum banyak mengerti dan tak peduli pandangan orang lain terhadapnya. Yang penting hari itu dapat uang yang cukup dari mengamen adalah kebahagiaan tersendiri. Sebuah potret keluarga miskin kota Jakarta yang tak mampu mengenyang pendidikan sekolah.

***

Taman yang berada di salah satu sudut kota Jakarta itu tampak mulai ramai di datangi warga sekitar. Nina dan beberapa orang dari sebuah yayasan orang tua asuh terlihat mendata anak pengamen di taman tersebut.

“Siapa nama adik?”

“Neha Pratiwi.”

“Sekarang umurnya berapa?”

“Tujuh tahun.”

“Neha, nanti kalau sudah besar ingin menjadi apa?”

“Presiden.”

Anak itu menjawab dengan suara yakin. Nina menghela nafas perlahan, ada sekat yang teramat jauh antara Neha dan cita-citanya. Sejauh antara pengamen dan presiden. Bagaimana mungkin anak pengamen bisa mewujudkan mimpi setinggi itu?

Tak ada yang mustahil bila setiap anak mengenal bangku sekolah. Begitu pula dengan anak-anak pengamen itu. Dengan program orang tua asuh akan mengentaskan mereka dari kebodohan yang selama ini menghinggapi anak dari keluarga seperti mereka. Tak ada lagi anak yang buta huruf, tak ada lagi anak yang bekerja di bawah umur. Semua anak bisa duduk di bangku sekolah.

“Anaknya umur berapa, Bu?”

“Delapan tahun.”

“Kenapa tidak bersekolah?”

“Tidak ada biaya.”

Ada rasa sesak di dada Nina ketika menuliskan data tentang mereka di kertas. Ada harapan besar di benak Nina akan masa depan anak pengamen di taman itu. Ia berharap langkah kecilnya itu akan menjadi jembatan bagi mereka untuk meraih mimpi. Mimpi yang tinggi seperti anak normal yang lain.

***

Note: Dimuat di KABAR KARAWANG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s