Hidayah Surprise

hidayah surprise

Oleh: Dhia Fajar

Nurul membuka mata. Bergegas ia menuju meja belajar di sudut kamar. Menghidupkan notebook dan mencolokkan modem. Rasa penasaran tak bisa dibendung sudah. Hari itu pengumuman lomba menulis cerpen remaja sebuah majalah. Pengumuman itu diumumkan di situs online dan di majalah remaja itu pada edisi terbaru.

“Yah… Namaku mana!” Nurul memandangi layar notebook dengan kecewa. Namanya tak ada dalam daftar juara lomba menulis cerpen itu. Nurul memang ikut serta dalam event itu, bahkan ia mengirimkan dua buah karya. Ia menutup notebook kembali. Matanya memandangi langit-langit.

Teringat kembali pesan Febi ketika naskahnya tak lolos dalam sebuah event lomba menulis serupa di Facebook sebulan yang lalu. Febi mengatakan bahwa seorang penulis harus mempersiapkan ruang di hatinya ketika pada suatu hari ia mengirimkan tulisan ke redaksi atau event lomba menulis tetapi naskahnya ditolak atau gagal masuk nominasi. Hal tersebut adalah lumrah atau malah memang begitulah seharusnya perjalanan awal dari seorang penulis.

Nurul menyimpan kembali notebook-nya. Ia membuka handphone dan mendapati ada beberapa pesan yang masuk. Ia membuka satu-persatu, ternyata Vita dan Ajeng menyerukan hal serupa dalam pesan mereka.

“Nurul, ke pantai Bentar, yuk! Minggu yang cerah nih. Kita berkumpul jam 10.00 nanti. Jangan lupa bawa makanan yang buanyak plus kamera untuk dokumentasi, ya.. !!”

Ada senyum yang tersirat di wajah Nurul. Sudah lama ia tak berkunjung ke pantai Bentar, apalagi bareng teman sekelas yang lain. Setelah ujian semester sekolah yang membuat kepala pusing, ia membutuhkan liburan untuk mengembalikan “power” dalam dirinya. Berbeda dari yang lain, hanya Febi yang tak kompak untuk menyerukan liburan ke pantai.

“Hi, Nurul! Untuk pekan ini pelatihan di Forum Lingkar Pena akan diisi oleh Mbak Vivid Noviati dengan tema “Jurus Sakti Menulis Fiksi.” Tempat : Yayasan Al-Fattah, waktu : 10.00 s/d selesai. Jangan lupa datang, ya.”

Nurul kembali menatap langit-langit. Ia terlihat menimbang-nimbang. Ia mengambil tas lalu memasukan beberapa barang, ada sunblock, makanan kecil, kaca mata, IPod dan kamera digital serta handphone. Ia juga memasukan notebook sekaligus modem ke dalam tas. Entah apa yang akan dilakukan dengan notebook tersebut oleh gadis remaja itu.

Holiday is coming!

Nurul akhirnya memilih liburan ke pantai Bentar ketimbang ikut nimbrung di pelatihan Forum Lingkar Pena bareng Febi dan yang lain. Lebih berat liburan ke pantainya! Pantai Bentar memang unik, seunik namanya. Pantai yang terletak di kabupaten Probolinggo itu memanjang di tepi jalan Surabaya-Banyuwangi. Objek wisata itu sangat potensial dikunjungi para turis mengingat lokasinya yang merupakan lintasan wisata dari Bali-Surabaya-Yogyakarta-Jakarta dan sebaliknya.

“Yey! Akhirnya bisa main-main di pantai Bentar!”

Pada hari Minggu pantai Bentar sangat ramai pengunjung, mereka ada yang datang bersama keluarga, pasangan, atau teman. Ada juga yang hanya singgah sebentar di pantai Bentar lalu meneruskan kembali perjalanan mereka.

“Yuk, naik sepeda air, asik tuh! Udah lama banget kan kita nggak pernah naik itu.” Nurul menarik tangan Vita dan Ajeng. Keduanya sontak menolak.

“Itu wahana buat anak kecil. Lo membuat malu kita saja.”

“Hitung-hitung untuk mengingat kembali kenangan masa kecil kita!” Nurul menarik kembali tangan keduanya.

What!

Ternyata liburan di pantai membuat Nurul kembali bersemangat. Ia mencoba beberapa wahana permainan yang disediakan. Kepenatan yang menyelimuti selama sepekan seperti perlahan menghilang. Vita dan Ajeng yang semula hanya ingin melihat-lihat pantai saja pun menjadi tertular juga.

“Moment seperti ini wajib kita dokumentasikan, karena kan nggak setiap hari kita alami. Kita foto bersama, nanti foto-fotonya gue share ke kalian lewat Facebook!” Nurul mengambil kamera digital dari dalam tas.

Nurul pun mencari salah seorang pengunjung pantai untuk menjadi juru foto mereka, tidak lumayan sulit mendapatkannya. Seorang lelaki penjual minuman ringan keliling yang kebetulan lewat menjadi korbannya. Namanya Chairul (lumayan keren namanya!), ia yang menerima mandat menjadi tukang foto mereka. Tak sulit mengajarinya, karena Chairul hanya cukup menekan satu tombol saja.

Lelaki itu terlihat sungkan dengan kamera. Jeprat-jepret yang dilakukan juga tanpa teknik fotografer! Tapi hal itu tak membuat Nurul dan yang lain sepi gaya. Pose mereka seru-seru, tak kalah dengan covergirl sampul majalah KawanGue, majalah remaja khas ibukota.

“Duh, panas banget. Nurul istirahat dulu, ya.” Nurul mengeluh kepanasan. Semakin siang semakin terik udara di pantai.

“Oke, lo duduk di sini saja. Jangan pergi, agar kita nggak lama mencarinya,” ujar Vita mewanti-wanti. Nurul duduk di bawah pohon yang lumayan rindang untuk berteduh.

Vita dan Ajeng kembali berkeliling pantai Bentar berdua. Nurul duduk sendirian. Ia membuka tas dan mengeluarkan Notebook. Ia membukanya lalu mencolokkan modem. Nurul langsung membuka situs jejaring sosial Facebook. Foto-foto dari kamera digital di-upload dan ia menuliskan sesuatu pada kolom keterangan yang disediakan.

“Liburan di pantai Bentar, seru banget…! Bagaimana liburan kalian, girls? –LADIES ZONE!–.” Nurul men-tag beberapa orang teman lalu men-share-nya.

Tak berapa lama, muncul sebuah komentar dari Vindy Gracia, “Backpacker-an ke Bali bareng bokap! Lebih irit dan ada tantangannya. Sekalian me-manage uang untuk penginapan, makan dan oleh-oleh.”

“Keren, tuh! Kalau ke Bali tetap mahal kali, yah. By the way, oleh-oleh orang bule-nya gue tunggu, Vin!” goda Nurul. Ternyata liburan Vindy Gracia –teman sekelas– yang merupakan blasteran Probolinggo-Kudus itu seru juga.

“Di rumah aja, he he he… kumpul bareng keluargaa…” Nandyati Senyum Selalu ikut berkomentar. Dengan cepat, jari-jemari Nurul menuliskan sebuah komentar balasan.

“Liburan paket hemat! Nggak perlu me-manage uang untuk penginapan, makan dan oleh-oleh he he.” Nadyati Senyum Selalu langsung merespon komentar Nurul, “Haa… jangan keras-keras, nanti yang lain tau. Sengaja gue create kegiatan di rumah, mencoba resep masakan baru. Happy cooking. Happy holiday. J”

“Lain kali aku coba resep barunya, sekalian bawa semua teman sekelas ha ha.” Nurul menjawab sekenanya. Tak berapa lama Vindy Gracia kembali berkomentar.

“Orang bule kok dijadikan merchandise! Kalau pun ada, mendingan buat sendiri aja he… he…”

Belum sempat nurul membalas komentar dari Vindy Gracia, sebuah komentar seorang laki-laki yang bernama Alek El’ Charlotte masuk tanpa permisi begitu saja. Padahal di album tertulis dengan jelas LADIES ZONE!, tetapi lelaki itu tidak memperhatikannya.

“Kapan-kapan gue ikut, ya… liburan bareng kalian. Salam kenal untuk cewek yang pake IPod. Mantap!”

Komentar lelaki itu terkesan seronok, tanpa tedeng aling-aling. Ia juga tak memiliki sopan-santun dalam berbicara. Nurul melihat foto cewek yang memakai IPod di albumnya.

Yang pake IPod kan gue!

“Memangnya lo nggak bisa baca, ya, tulisan segede itu, LADIES ZONE! Ini wilayah privasi cewek!” Nurul menekankan sekali lagi dengan mimik kesal. Alek El’ Charlotte kembali menuliskan komentar.

“Salah siapa men-share ke Facebook! Hak gue dong berkomentar.” Nurul kesal. Ia kembali menuliskan komentar lalu menutup notebook-nya.

Huh!

Udara pantai mulai terik banget, Vita dan Ajeng belum juga kelihatan batang hidungnya. Cacing-cacing di perut Nurul pada berkoar-koar minta diberi asupan makanan. Nurul membuka tas, lalu diambilnya semua makanan yang sengaja dibawa dari rumah. Ada coklat, snack, beberapa potong kue dan buah. Nurul memakannya sendiri.

Tak berapa lama, dua orang cowok lewat di depannya. Keduanya memperhatikan Nurul lekat. Yang satu, perawakannya tinggi, kulit putih, berbadan kurus. Yang satu lagi, lumayan tinggi, pakai kacamata, berambut keriting. Mereka mengedipkan mata. Nurul berusaha tak menghiraukannya.

“Sendirian aja neng… ikut abang naik perahu, yuk!” Nurul melihat sekilas ke arah mereka. Ternyata si keriting yang berbicara.

“Berenang aja sama abang, kita main air.” Suara si kurus menambahi.

Nurul tersinggung. Ia mengambil botol minuman dari dalam tas dan hendak melemparkan ke arah mereka, “Belum pernah lihat cewek cantik, ya! Mata kalian jelalatan kalau lihat cewek mulus kayak gue!”

“Apa kalian nggak punya sopan-santun, apa kalian tidak bisa sedikit saja menghargai perempuan!” Suara Nurul yang keras mengundang perhatian banyak orang. Ia seperti sedang memperkenalkan produk minuman kemasan di tengah pasar. Promosi. Orang-orang pun ramai memperhatikan. Karena takut dan malu, dua cowok itu langsung pergi menghilang.

Huh!

Dalam hati, Nurul bertanya-tanya. Apa ada yang salah dari dirinya, apa penampilannya yang membuat para lelaki berani menggodanya?

Memang pakaian yang Nurul kenakan tidak menutup aurat secara penuh. Tapi tidak terlalu terbuka. Menurutnya, ia masih berpakaian dengan sopan.

Nurul menatap langit, teringat pesan Febi ketika selesai menghadiri pelatihan menulis di Forum Lingkar Pena, “Semua bagian tubuh wanita adalah aurat yang harus kita tutup, kecuali wajah dan telapak tangan.”

“Paling tidak orang akan segan melihat kita, tidak berani untuk mengganggu apalagi menggoda. Dengan begitu, kedudukan wanita akan lebih dihargai.” Ucapan Febi beberapa waktu lalu teringat kembali

Nurul menarik nafas. Ia meletakan kembali botol minuman yang hampir ia lemparkan ke lelaki hidung belang yang menggodanya tadi. Hatinya seperti ada yang mengetuk. Nurul mulai menyadari, ada sesuatu yang kurang, sesuatu yang seharusnya menjadi bagian dari dirinya sejak lama.

Ia duduk beringsut menatap ke arah pantai. Pandangannya tertuju pada sebuah titik di tengah laut. Lama. Vita dan Ajeng datang menghampiri. Tiba-tiba Nurul ingin pulang ke rumah. Mereka bertanya-tanya, apa yang telah terjadi ketika mereka pergi. Nurul hanya diam sembari berlalu. Ia pun pergi.

***

Gadis cantik itu lama bercermin di kamar. Dipandangi lekat gambar dirinya mulai dari bawah ke atas : kaos kaki, rok panjang, gamis, dan jilbab sudah rapi dikenakan. Semua itu ia beli dengan uang tabungan sendiri. Dengan malu-malu ia keluar kamar lalu menuju meja makan untuk sarapan. Ia tak sabar ingin mendengar tanggapan orang-orang di rumah.

Loh-loh!

Ayah, ibu, adik, dan kakak menatap berbarengan ke arahnya, “Anak ibu yang cantik ini mau pengajian dimana pagi-pagi begini?”

Nurul mengerutkan kening. “Kok, kak Nurul kayak orang yang biasa minta sumbangan ke rumah kita.”

Nurul menaikan alis ke arah adiknya. Belum sempat ia membela diri, kakaknya ikut menambahi.

“Jangan-jangan kamu ikutan orang-orang menyebarkan paham negara islam yang lagi ramai di televisi itu.”

NII?

“Ya, ampun Nurul..,” ujar ibu hysteris. Ia takut anak gadisnya salah pergaulan dan menyebarkan ajaran salah itu.

Nurul tak menyangka, itikad baiknya dalam merubah penampilan ternyata mendapatkan tanggapan yang miring dari keluarga. Boroboro ia dielu-elukan, mendapat satu pujian pun tidak.

“Siapa juga yang ikut NII? Yang benar itu, Nurul ikut FLP!” Semua saling berpandangan satu sama lain.

“Apa itu FLP, Kak?”

“Forum… Lembaga… Permasyarakatan… jangan-jangan itu tempat berkumpulnya para napi!” Kakaknya menuduhkan hal negatif lagi. Ayah dan ibu hampir jantungan.

Nurul tak kalah kaget, “Yang benar FLP itu Forum Lingkar Pena, sebuah komunitas tempat berkumpulnya orang yang ingin menjadi penulis. Nurul biasa belajar menulis di sana.”

“Ooo…” Semua senada, seperti paduan suara.

“Apa harus memakai baju seperti yang kamu kenakan? Maaf, nggak modis.” Kakak kembali mengeluarkan komentarnya.

“Nggak juga, hanya saja Nurul mau belajar menjadi wanita muslimah seutuhnya. Nurul nggak mau ketika berjalan, semua mata lelaki memandangi Nurul seperti menelanjangi. Nurul hanya ingin dihargai.”

Dunia seakan berhenti. Diam. Ayah tak bergerak dengan posisi duduk membaca koran di tangan kiri sembari memegang secangkir kopi di tangan kanan, ibu dalam posisi menuangkan minuman ke gelas dan mata memandang ke arah Nurul (gelas hampir penuh, bentar lagi luber), kakak sedang menelan satu sendok penuh nasi ke mulutnya dan adik masih memandangi Nurul, melihat perubahannya.

“Uhuk.” Tiba-tiba kakak terbatuk (mungkin lebih tepatnya tersedak), sekaligus menyadarkan yang lainnya.

Pagi itu semua anggota keluarga merasa heran dengan perubahan Nurul yang terbilang drastis. Tak pernah sebelumnya ia mengemukakan atau mengutarakan keinginannya untuk mencoba berjilbab, apalagi menjadi seorang jilbaber. Sehari-hari juga tak pernah sekalipun ada kegiatan yang berkaitan dengan keislaman, seperti pengajian atau yang lain. Hidayah seperti mendadak datang begitu saja.

Selesai sarapan, Nurul pun berpamitan kepada ayah dan ibu dengan mencium kedua tangan mereka sembari berucap dengan sopan, “Assalamu’alaikum.”

Itu adalah salam yang diucapkan di rumah itu untuk pertama kali. Ayah dan ibu hanya diam sembari saling bertatapan, hingga membuat Nurul mengulangi salamnya untuk yang kedua kali.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’a_laikum_salam.” Suara mereka kaku.

Mulai hari itu Nurul membulatkan keinginannya untuk menutup aurat. Ia akan menanggalkan segala jenis pakaian terbukanya yang biasa ia kenakan. Memang hidup itu pilihan, tapi dalam Islam tidak ada pilihan selain menutup aurat untuk wanita muslimah seperti dirinya. Beruntung ia mendapatkan hidayah. Nurul bertekad akan lebih mendekatkan diri dan mengajak yang lain baik secara lisan maupun tulisan untuk mengikuti jejaknya mendapatkan hidayah.

Akhirnya Nurul bertemu dengan Febi di Forum Lingkar Pena, tapi gadis itu malah terlihat bingung seperti tak mengenalinya. Ketika tersadar, Febi berkali-kali menyebut Asma Allah seolah tak percaya. Nurul, seorang gadis yang menjadi primadona di sekolah karena cantik dan seksi telah menjelma menjadi bidadari.

Karawang, 7 Juli 2011

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s