Burung Camar

Oleh  : Dhia Fajar

Siapa yang tidak kenal dengan Tike. Seluruh penjuru sekolah sudah tentu mengenalnya, mulai dari siswa, guru, security hingga tukang kebun di sekolah pun mengenalnya. Itu karena ia memiliki bentuk tubuh yang mudah dikenali. Ya, berat badannya berlebihan alias gendut. Meskipun begitu tapi Tike selalu menjadi juara umum di sekolah bahkan beberapa kali berhasil mengharumkan nama sekolah di bidang akademik hingga tingkat nasional.

Prestasi Tike itu selalu mengundang decak kagum banyak orang. Termasuk Ridho, siswa sekelasnya yang diam-diam menaruh hati padanya. Tapi Tike tak pernah menyadarinya.

“Banyak banget cewek yang naksir sama lo, Dho!” ujar Fadillah.

“Ya, kenapa sih lo milih Tike? ” tanya Adun.

“Dia memang pintar sih, tapi..” suara Fadillah tak berkelanjutan. Mungkin tak berani untuk meneruskannya.

“Mendingan Nani atau Mita, benar nggak?” potong Gilang.

“Kurang apa sih mereka? Sudah cantik, populer pula di sekolah. Tapi anehnya lo malah kepincut sama gentong sekolah!” lanjut Gilang sekenanya.

Mata Ridho langsung mendelik ke arah Gilang yang langsung lari saat Ridho hendak menyabetnya dengan gulungan buku.

Tike memang gendut, tapi ia memiliki hati selembut sutera. Ridho pernah melihat Tike sedang membagi-bagikan bungkusan makanan di pinggiran jalan raya ketika masuk waktu berbuka puasa di awal bulan Ramadhan. Tike terlihat bersama dengan beberapa orang berpakaian putih-putih, mungkin teman, keluarga atau kerabatnya. Mereka memberikan bungkusan makanan ke anak jalanan sepanjang jalan yang mereka lewati.

Saat itulah Ridho mulai diam-diam memperhatikan sosok Tike. Entah itu di dalam kelas, di kantin, di perpustakaan, atau di pintu gerbang saat Tike masuk dan pulang sekolah. Ia melihat dari jauh, dari balik punggung orang lain. Ridho memperhatikan gerak-geriknya, mengagumi sosoknya walaupun ia perlahan menjauh.. dan menghilang. Ada cinta yang sudah bersemayam di hatinya.

Gentong sekolah? Sopan banget!

Sindiran teman-temannya tak memadamkan semangat Ridho untuk mendekati Tike. Ia pun mulai gencar mendekati Tike, memberikan coklat untuk berbuka puasa, menyelipkan surat, atau mengiriminya sms saat berbuka dan sahur lewat telepon seluler. Tapi sikap Tike masih dingin terhadapnya, Tike tak jua memberikan isyarat lampu hijau dan merespon cintanya.

Hingga kenyataan pahit itu datang, menjawab semua pertanyaan yang selama ini berkecamuk di hati Ridho. Tike sudah punya pacar! Beberapa kali tiap Tike pulang selalu ada yang menunggu di depan sekolah. Mata Tike selalu berbinar saat menyambutnya, ia terlihat bahagia. Tike selalu dijemput oleh cowok –sebenarnya kakaknya– dengan baju putih-putih berjenggot. Ridho mengira itu adalah jawaban kenapa cintanya selama ini bertepuk sebelah tangan.

Hati Ridho hancur, ia pun patah hati. Ia banyak murung di sekolah, hingga membuat yang lain bingung. Teman-temannya menghibur Ridho berharap ia melupakan Tike. Mereka berusaha memperkenalkan cewek lain yang mungkin sesuai dengan selera Ridho. Mereka pun diperlihatkan banyak foto-foto untuk dijadikannya pilihan.

“Ini namanya Zubaidah, paling mirip dengan Tike. Ia anak kelas 2 IPA. Juara kelas!”

“Klo ini Atun, anak kelas 1 IPS. Walaupun bukan juara, tapi dia aktif di OSIS dan ROHIS.”

“Yang ini Aniyah…”

Gilang dan yang lainnya terus memperlihatkan kumpulan foto cewek dari dalam hapenya. Ridho hanya melihat foto-foto itu sekilas. Semuanya terlihat cantik, bahkan lebih cantik dari Tike. Tapi bukan berarti dengan menghadirkan orang lain yang lebih cantik dari Tike, bayangan Tike akan menghilang begitu saja.

Ah!

“Hati gue bukan seperti pintu kulkas yang bisa kalian buka dan ditutup seenaknya. Terus kalian bisa mengambil dan menaruh makanan semaunya,” ujar Ridho sembari berlalu. Ia terlihat murung.

***

Satu Minggu berlalu, senyum Ridho kembali seperti semula. Bahkan terlihat lebih ceria. Bukan karena tidak ada lagi yang menjemput Tike sepulang sekolah, bukan pula karena Tike merespon cintanya. Ada yang sedang dekat dengan Ridho sekarang: teman Facebook!

Semenjak Ridho patah hati, ia banyak menghabiskan waktu di rumah. Ia mencurahkan isi hatinya pada situs jejaring sosial Facebook. Di situlah ia mengenal Burung Camar, seorang cewek yang tiba-tiba hadir dan perlahan-lahan mengisi ruang di hatinya. Hati yang dulu hancur berkeping-keping, berhasil dirangkai dan disusun kembali hingga hati itu utuh kembali. Camar-lah sang perangkai hati. Camar hadir memberi semangat baru untuknya.

“Siapa Burung Camar?” tanya Fadillah.

“Apa ada fotonya?” tanya Adun ikut penasaran.

Ridho hanya menggeleng menjawab pertanyaan keduanya. Ridho tidak tahu siapa siswi di sekolah yang memakai nama Facebook itu.

“Tiap kali ditanya, ia selalu menutupi identitasnya. Ia juga tidak menampilkan foto pada profil Facebook-nya. Yang ia tulis, hanya nama sekolah kita saja,” jelas Ridho pada yang lain.

“Berarti dia siswi sekolah kita, dong?” ujar Fadillah.

“Siapa?”

“Kenapa ia tak menampilkan foto?” tanya Adun.

“Mungkin karena tidak cantik,” ceplos Gilang enteng.

Ridho langsung melotot, Gilang langsung refleks mengacungkan dua jari tangan yang membentuk huruf V ke arah Ridho.

“Peace… !!”

***

Tike sadar, tubuhnya memang berbeda dari kebanyakan siswi di sekolah. Tapi ia tidak pernah minder, justru ia semakin percaya diri karena ia berbeda dari yang lain. Tubuhnya yang besar tidak menjadi hambatan buatnya untuk berteman dengan seluruh siswa satu sekolah. Apa lagi soal prestrasi, ia tak pernah kalah dari siswa lain. Terbukti, selama dua tahun berturut-turut ia selalu menjadi juara umum di sekolah.

Sebenarnya, ada satu cowok yang menjadi idolanya. Cowok itu itu adalah teman sekelasnya sendiri. Tapi rasa itu hanya sebatas suka sebagai teman saja, tidak lebih dan tidak pula kurang. Menurutnya, rasa suka tidak harus dikemas dalam bingkai pacaran. Karena pacaran itu lebih banyak kerugiannya daripada manfaatnya, terutama buat wanita.

Dalam Islam, interaksi atau hubungan yang terjalin dengan lawan jenis itu ada tata caranya. Tike selalu memegang teguh aturan itu.

Nama cowok itu Ridho. Ia adalah ketua tim basket di sekolah. Jangan heran, bila tiap kali pertandingan bola basket antar kelas maupun antar sekolah, Tike tak pernah absen memberikan dukungan di barisan paling depan. Ia tidak pernah melewatkan satu pertandingan pun untuk sekedar melihat idolanya itu.

“Ayo.. Ridho…!!” teriak Tike memberi dukungan.

Mira dan Sisi adalah teman baik Tike di sekolah. Sesekali mereka menginap di rumah salah satunya secara bergiliran, kalau sekarang di rumah Sisi, besok di rumah Tike, besoknya lagi di rumah Mira dan seterusnya. Dan biasanya di saat itulah mereka berbagi cerita seputar masalah pribadi. Tak jarang juga mereka membicarakan siswa lain di sekolah.

“Ridho memang jago bermain basket, ya? Sekolah kita akhirnya bisa juara lagi!” ujar Sisi.

“Sudah cakep, lumayan pintar pula di kelas,” tambah Tike sembari tersipu. Ia memeluk bantal dengan erat, spontan Sisi dan Mira menatapnya dengan aneh.

“Lo suka sama Ridho?” ceplos Mira. Tike langsung melepas dekapan bantalnya.

“Nggak, maksud lo, Ra?” elak Tike, ia terlihat salah tingkah.

“Pipi lo merah, Tike!” ucap Sisi dengan nada memojokan.

“Jangan-jangan sudah lama lo suka sama Ridho! Kenapa sih, lo nggak pernah cerita?” tambah Mira.

“Nggak! Apaan sih kalian? Gue hanya sekedar menaruh simpati aja, dia kan sudah mengharumkan nama sekolah kita,” jelas Tike.

“Berarti benar, dong?” ledek Mira.

“Nggak! Kalian kayak baru kenal gue aja.”

“Nggak salah…,” potong Sisi sekenanya.

Sejak saat itulah Mira dan Sisi kerap iseng pada Tike di sekolah. Terkadang memberikan coklat dengan alasan dari Ridho, atau menyelipkan surat pada buku tulisnya. Dan ternyata setelah dicek, tulisan itu mirip tulisan Mira. Tike juga kerap dapat sms berisi ucapan berbuka puasa ataupun sahur dari nomor baru, Tike pun langsung bisa menebak itu adalah kerjaan kedua temannya. Kalau bukan Mira, ya Sisi.

“Tike, lo dapat coklat lagi nih!” ujar Mira sembari mengulurkan sebatang coklat untuk yang kesekian kalinya ke Tike.

“Ada apa sih sebenarnya? Sudah kesekian kalinya gue dapat berkah coklat di bulan Ramadhan ini. Apa uang kalian nggak habis buat beli coklat?” tanya Tike ke Sisi dan Mira.

“Apa ada sesuatu yang gue lupa? Hari ultah gue kan sudah lewat,” tambahnya. Tike berusaha menerka-nerka alasan mengapa mereka berdua memberikan coklat untuknya.

“Itu beneran dari Ridho, Tike!” tekan Sisi.

“Nggak mungkin banget Ridho ngasih coklat buat gue. Memang gue udah nglakuin kebaikan apa ke dia?” tegas Tike tak percaya. Walaupun begitu, Sisi dan Mira tetap bersikukuh kalau coklat itu tidak mereka beli sendiri, melainkan pemberian dari Ridho.

“Kalian jangan ngaco, deh!” ujar Tike kesal.

Tike kerap kali kesal bila Sisi dan Mira berulah lagi. Kalau sudah begitu, Tike sering menumpahkan isi hatinya di situs jejaring sosial Facebook. Ia kerap berbagi segala unek-unek dan masalahnya pada jejaring sosial itu. Alhasil, ia kenal dengan satu cowok yang bernama Lautan Biru. Walaupun tidak menampilkan foto pada Facebook-nya, tapi Tike tahu ia adalah cowok yang baik, terlihat dari status dan catatan yang ia bagikan. Satu hal yang bikin Tike penasaran adalah cowok itu ternyata satu sekolah dengannya.

Siapa?

Tike pun segera mencari tahu nama Facebook para siswa di sekolah. Tapi tidak ada yang menggunakan nama itu. Ia pun bertambah penasaran, karena Lautan Biru juga mengatakan ia tidak menemukan siswi di sekolah yang memakai nama sebaliknya. Ternyata keduanya merasakan hal yang sama. Mereka pun memutuskan untuk bertemu.

***

Ridho pun sudah siap untuk bertemu. Ada rasa nervous yang besar di hatinya, padahal ia tidak pernah segugup itu sebelumnya. Siapa sebenarnya Burung Camar? Pertanyaan itu terus berputar-putar di kepalanya, ia ingin secepatnya bertemu.

Ridho melangkah memasuki toko buku sembari menyapu pandangan ke penjuru ruangan. Sebelum bertemu keduanya sepakat, untuk memakai sweaters warna putih saat bertemu. Persis seperti yang dikenakan Ridho sore itu. Tapi di dalam toko tersebut tidak ada pengunjung yang seperti itu. Ridho sempat kecewa. Apalagi tidak ada nomor handphone yang bisa dihubungi, mereka hanya berhubungan lewat Facebook. Cewek itu begitu misterius.

Tike sampai juga di toko buku. Pandangannya langsung menyisir seluruh isi toko. Buku-buku fiksi yang selalu jadi bacaan dirumah dilewatinya, buku non-fiksi, lalu majalah dan lainnya. Tike tidak sempat untuk menyapa buku-buku itu. Ia tidak sempat menyentuh satu pun, apalagi membaca resensi dibalik buku-buku itu seperti yang biasa dilakukannya. Ia hanya melewatinya. Tike sedang mencari sesuatu. Sesuatu yang lebih menarik perhatiannya ketimbang buku-buku itu. Ia mencari Lautan Biru.

Ketemu!

Tike mendapati seorang laki-laki dengan sweaters warna putih sedang berdiri membelakanginya sembari membaca buku. Tike pun mendekat, lalu menepuk pundaknya sembari menyapa dengan suara pelan.

“Lautan Biru..?”

Lelaki itu menengok ke arah Tike. Ada rasa gugup yang begitu besar di dada Tike, tapi perlahan buyar seketika saat yang dilihatnya bukanlah orang yang dimaksud. Ia seorang wanita, rambutnya pendek seperti potongan rambut laki-laki. Tike salah orang. Ups, maaf!

“Burung Camar?” sapa seorang mengejutkan Tike.

Suara itu seperti tak asing di telinga Tike. Ya, suara cowok yang selama ini menjadi idolanya. Cowok yang dari dulu ia suka sebagai siswa berprestasi di sekolah. Cowok yang ia hormati sebagai ikhwan!

Mungkinkah?

Tike pun menengok, ia terkejut ternyata yang menyapanya adalah Ridho. Begitu pula dengan Ridho, ia tidak menyangka kalau Burung Camar adalah Tike, teman sekelasnya sendiri.

“Laut_an Bi_ru?” ucap Tike sedikit terbata.

Keduanya saling menatap tak percaya.

***

Note : Dimuat di KABAR KARAWANG

burung camar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s