Phobia Buah

phobia buah

Oleh: Dhia Fajar

Namaku Dwi Lusiani, aku tinggal di daerah Margasari, kabupaten Tegal. Aku adalah anak kedua dari empat bersaudara dari pasangan Tarmudi dan Suherti. Semua saudaraku terlahir dan hidup normal tapi tidak denganku. Secara fisik aku memang normal tapi secara psikologi aku tidak normal. Aku memiliki semacam ketakutan berlebihan terhadap segala jenis buah. Ya, aku seorang phobia buah.

Mungkin bagi kebanyakan orang itu hal yang aneh dan tidak wajar. Bagaimana mungkin seseorang merasa takut terhadap buah, sedangkan buah itu sangat disukai dan dikonsumsi semua orang. Lagi pula tidak ada hal yang menakutkan dari buah. Buah tidak memiliki kemampuan mempertahankan diri seperti binatang, seperti lebah dengan sengatannya, ulat dengan bulunya, atau ular dengan bisanya dan lain-lain.

Ini terjadi padaku. Aku merasa jijik bila melihat, meyentuh apalagi mengkonsumsi buah. Aku takut buah. Hal ini mungkin bisa digambarkan atau disamakan dengan seseorang yang merasa jijik dengan kecoa. Melihat saja sudah takut, apalagi menyentuh atau mengkonsumsinya? Kata dokter yang menanganiku sejak kecil, aku memang mengidap penyakit langka, tapi alhamdulillah ada obatnya.

Aku harus minum obat dan memakai krim untuk kulit secara teratur. Tapi masalahnya, harus dibarengi dengan mengkonsumsi sayuran dan buah. Mungkin semua orang menganggapnya mudah, tapi tidak buatku. Bayangkan, bangaimana mungkin aku bisa mengkonsumsi buah, itu sama halnya seseorang yang phobia kecoa harus dipaksa mengkonsumsi kecoa. Aku tidak bisa.

Banyak kisah yang sebenarnya menurutku itu menyakitkan tapi menjadi lucu dimata orang lain. Tentunya perihal kelainanku ini. Waktu masih duduk di bangku sekolah dasar aku pernah dikerjai teman-teman sekelasku. Mereka menaruh sisa buah apel yang mereka makan ke dalam tasku. Saat aku mengambil buku aku menyentuh dan mengambilnya. Sontak, aku menjerit ketakutan, tapi bagi temanku itu adalah hal yang patut untuk ditertawakan karena lucu. Perutku langsung mual dan kepalaku pusing, efek dari bersentuhan dengan buah. Aku muntah.

Memasuki bangku sekolah menengah atas aku pun mengalami hal serupa. Aku bahkan sampai dijagal oleh teman-temanku, tubuh dan tanganku dipegang kuat-kuat sehingga aku tak bisa melawan. Mereka memasukkan buah lengkeng ke mulutku hanya karena mereka tak percaya kalau ada orang yang phobia dengan buah sepertiku di dunia ini. Aku menjerit histeris, memberontak sekuat tenaga, tapi apa daya aku hanya seorang wanita yang lemah. Tenagaku yang hanya satu orang tak bisa menandingi sekian banyak orang yang memegangiku. Alhasil, beberapa lengkeng masuk ke mulutku, perutku langsung mual dan kembali muntah.

Aku akui, memang hal yang susah dipercaya dan diterima dengan akal sehat, tapi ini terjadi padaku.

Dari kecil sampai sekarang, aku tidak pernah mengkonsumsi buah, sehingga ada banyak sekali dampak negatif yang aku rasakan sekarang. Aku memiliki daya tahan tubuh yang lemah, karena tak ada konsumsi vitamin C dari buah yang masuk ke tubuh. Kulitku menjadi sangat sensitif karena ternyata kulitku berubah menjadi ½ lebih tipis dari kulit normal. Aku tak boleh terkena sinar matahari langsung terlalu lama, karena kulit akan berubah memerah. Aku harus mengenakan payung untuk melindungi kulit kemanapun aku pergi. Bukan hanya itu, kulitku juga akan memerah dan gatal bila terkena minyak kayu putih, balsam dan semacamnya. Begitu pula bila ditempeli koyo atau plester, kulitku akan merasakan hal yang serupa.

Pernah jariku tak sengaja teriris pisau dapur saat sedang menumis bawang karena kurang hati-hati. Aku pun hanya membilasnya dengan air, sedangkan untuk menghentikan pendarahan aku mengikat bagian luka dengan kain bersih. Bukan karena tak ada uang untuk membeli plester, hanya saja aku tak mau kulitku memerah dan menjadi gatal-gatal. Makanya, untuk menjaga kondisi badan dan keseimbangan nutrisi pada kulit, aku mengkonsumsi berbagai macam suplemen setiap hari, seperti vitamin C untuk daya tahan tubuh dan vitamin E untuk kulit. Walaupun aku tahu, itu belumlah cukup.

Selain itu, ternyata tak mengkonsumsi buah membuatku memiliki bentuk tubuh yang tak ideal. Ya, aku sulit mengontrol berat badanku, walaupun asupan makan setiap hari aku kurangi. Alhasil, aku tak memiliki bentuk tubuh ramping seperti yang diidamankan setiap wanita. Aku gemuk, terkadang aku merasa minder bila melihat wanita yang memiliki bentuk tubuh ideal. Mereka terlihat sangat cantik dan mudah menarik perhatian laki-laki. Ah, tapi aku percaya, rejeki dan jodoh itu sudah ada yang mengatur.

Dalam bergaul, aku bergaul secara normal dan aku memiliki banyak teman. Semuanya menerimaku dengan hangat, walaupun terkadang mereka masih membuat lelucon kecil dengan segala jenis buah. Selan itu, aku juga kuliah di Universitas Terbuka, mengambil jurusan: pendidikan guru sekolah dasar. Alhamdulillah, sekarang sudah masuk semester 6, hanya tinggal beberapa semester lagi aku akan menjadi sarjana. Ya, kekurangan dan keterbatasan yang aku miliki tak menghalangiku untuk meraih mimpi.

Sembari kuliah, aku juga mengajar anak-anak di sebuah playgroup/ sekolah usia dini. Ada tiga kelas, yaitu kelas anak umur 2-3 tahun, 3-4 tahun dan 4-5 tahun. Aku kebagian mengajar anak-anak yang paling kecil, yaitu kelas anak umur 2-3 tahun. Banyak sekali suka duka selama aku mengajar di situ,  apalagi mereka masih sangat kecil. Aku banyak bicara sendiri, karena mereka belum peka dalam merespon sesuatu.

Aku selalu menanamkan pola hidup yang sehat pada anak-anak, salah satunya dengan mengkonsumsi buah-buahan terutama bila jadwal makan tiba. Memang lucu, aku sendiri tak pernah mengkonsumsi buah tapi aku mengkampanyekan agar mereka mengkonsumsinya. Terkadang, ada anak yang manja dengan memintaku untuk mengupaskan buah. Tapi, alhamdulillah aku bisa meminta bantuan guru yang lain untuk membantu mengupasnya. Kalaupun terpaksa aku sendiri yang turun tangan, aku langsung buru-buru cuci tangan. Ya, aku masih merasa jijik bila kulitku ada kontak dengan semua jenis buah.

Untuk membayar biaya kuliah, aku biasa berdagang sehabis mengajar di playgroup. Aku berjualan es buah di depan sebuah mini market yang letaknya lumayan strategis. Alhasil, daganganku tak pernah sepi pembeli. Mungkin ini adalah hikmah dari perjalanan hidupku. Aku yang dulu sempat membenci dan mengutuk keabnormalanku terhadap segala jenis buah, tapi ternyata Tuhan memberikan keberkahannya melalui buah itu sendiri. Sungguh, rahasia Allah tidak ada satu makhluk pun yang tahu.

Sejak aku berjualan es buah, ketakutanku terhadap segala jenis buah mulai berkurang, terutama saat melihat, walau perasaan jijik masih ada. Aku selalu mencuci tangan setiap kali menyentuhnya. Bagaimanapun ada semacam sugesti yang kuat yang membuatku merasa jijik bila menyentuhnya. Entahlah, sampai sekarang rasa jijik itu masih ada dalam diriku.

Kedepannya, jika Allah mengijinkan aku ingin tinggal di tempat yang sejuk agar aku bisa terbebas dari masalah kulit. Aku ingin memiliki keluarga dan anak yang sehat. Aku tak mau kelainanku ini menurun pada anakku. Aku percaya.. bersama kesulitan ada kemudahan, bersama masalah ada jalan keluar yang membentang, bersama duka ada bahagia menjelang, dan bersama kesedihan ada kegembiraan yang dipersiapkan oleh Tuhan. Wallahu a’lam bisshawwab.

*Sesuai yang diceritakan Dwi Lusiani padaku

***

Note: Dimuat di ANNIDA

2 thoughts on “Phobia Buah

  1. Waahh mba sya juga mengalami yang hampir mirip sama mba..sya takut dengan segala jenis buah kecuali pisang..entah kenapa..sy takut dengan bentuk buah..tapi sy masih bisa memakan buah tersebut kalau dalam bentuk kemasan. Macam pulpy orange dll..tp bila masih berbentuk buah..walau dh dipotong sy langsung muntah..dan kabur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s