Ketika Adikku Bertanya Apa itu Hari Valentine

adik2

Oleh: Dhia Fajar

Huh!

Meutia nampak bosan dengan acara-acara yang di tayangkan di televisi. Jari jemarinya yang kecil memindah-mindah channel televisi dengan lincah. Aku yang kebetulan ikutan menonton, merasa risih dengan ulah Meutia.

“Meutia, jangan diganti-ganti. Yang tadi kan bagus, kita belum kelar lho nontonnya,” bujukku pelan.

“Lagi jeda, Kak.”

Meutia terus memandangi layar televisi, ucapanku tak diacuhkannya. Ia memainkan bibirnya agak ke depan, wajahnya menunjukan mimik kecewa. Tak ada acara lain yang disukainya. Aku pun bernapas lega, soalnya kalau Meutia sudah suka satu acara, susah sekali untuk mengambil alih. Takutnya acara yang ia tonton kurang mendidik. Seperti film remaja, horor, action atau gosip selebriti dan lain-lain.

Meutia kelas satu sekolah dasar. Ia memiliki rasa ingin tahu yang begitu besar. Harus hati-hati dalam mendampinginya menonton acara televisi. Soalnya anak kecil adalah makhluk yang paling pintar mencontoh semua hal yang ia lihat dan ia dengar. Makanya, dalam berbicara pun aku harus berhati-hati.

Meutia kembali ke channel awal, tepat saat iklan sebuah film Hollywood yang berjudul Wedding Planner. Bintang utamanya adalah Julia Robert. Film itu rencananya akan ditayangkan di station televisi tersebut di hari Valentine.

“Kak, apa itu hari Valentine?”

Aku pun terkejut dengan pertanyaan Meutia. Aku berpikir sejenak, Meutia menatap ke arahku dengan mimik rasa ingin tahu. Aku harus hati-hati menjelaskannya, aku pun mendekat ke samping Meutia.

Hari Kasih Sayang. Ah, nanti dulu.

“Hari Valentine itu bukan hari perayaan untuk kita. Kita tidak boleh ikut merayakannya.”

“Kenapa, Kak?”

“Dalam agama kita, tidak ada tradisi yang namanya hari Valentine. Rasulullah sendiri tidak pernah mencontohkan umat Islam untuk merayakannya.”

Meutia menatap ke arahku antusias. Ia seperti ingin tahu lebih banyak lagi. Aku mulai bercerita dengan hati-hati. Aku tak mau, suatu saat nanti Meutia ikut merayakan hari Valentine karena dapat informasi yang salah.

“Perayaan Hari Valentine itu berasal dari bangsa Romawi penyembah berhala pada jaman jahilliah dulu. Sejarah cerita yang turun-temurun tidak begitu jelas bagaimana awal mula hari Valentine itu. Ada beberapa versi cerita, tapi semuanya meragukan dan masih sebatas dugaan saja.”

Meutia terlihat mulai serius mendengarkan ceritaku.

“Pada jaman sekarang ini, hari Valentine biasa diartikan sebagai hari kasih sayang. Padahal asal-muasal ceritanya tidak jelas. Semakin lama, semakin beraneka ragam juga cara orang-orang mengaplikasikannya.”

“Seperti apa, Ka?” tanya Meutia.

“Ada yang yang merayakan dengan memberi hadiah berupa cokelat, bunga atau boneka. Ada juga yang makan malam khusus dengan pasangan dikelilingi cahaya lilin, atau yang lainnya. Tak jarang menghabiskan banyak uang. Padahal kalau ditimbang, lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya.”

“Dari pada uang habis untuk hura-hura lebih baik ditabung untuk masa depan atau disedekahkan kepada fakir miskin yang membutuhkan. Ya, tidak?”

Aku mencubit hidung Meutia dengan sayang. Ia reflek memejamkan mata sembari mencoba meraih tanganku. Aku langsung menarik tanganku untuk menghindar. Meutia kembali memainkan bibirnya dengan lucu.

“Jadi, tidak ada hari Valentine dalam agama Islam. Haram hukumnya, Meutia tidak boleh ikutan, meskipun banyak orang yang dengan sengaja ikut merayakannya.”

“Mungkin mereka lupa?”

“Mungkin, tapi mungkin juga mereka dengan sengaja mengesampingkannya. Hati mereka labil, akibat kehidupan mereka yang kurang terbingkai dengan konsep Islam yang baik, saat mereka di rumah maupun di luar rumah.”

“Ingat, barang siapa tasyabbuh atau menyerupai suatu kaum berarti ia termasuk di dalam kaum tersebut. Berarti bila kita ikut merayakan hari Valentine, kita juga sama jahilliahnya seperti bangsa Romawi penyembah berhala jaman dulu itu.” jelasku.

Aku percaya, kalau pribadi Meutia sudah terbingkai konsep Islam dari rumah, ke depannya ia bisa menentukan sendiri mana yang benar dan mana yang salah. Ilmu di sekolah tidak akan banyak berguna kalau mentalnya tidak dibentuk mulai dari rumah, apalagi kehidupan di masa mendatang makin kompleks.

“Sekarang Meutia sudah mengerti, Kak. Kenapa kita tidak boleh ikut merayakan hari Valentine.” ujar Meutia.

“Alhamdulillah. Memang sudah seharusnya kita sebagai generasi muslim, say no to Valentine!” kataku.

Sesungguhnya Rasulullah sudah meninggalkan sesuatu kepada umat Islam yang apabila hal itu dipegang teguh umat Islam tidak akan sesat selamanya, yaitu kitab Allah dan sunnah rasul-Nya. Dan barangsiapa yang melakukan pekerjaan yang tidak ada pada sunnah Rasulullah, maka pekerjaan tersebut tidak diterima dan sia-sia.

Pada akhirnya, harapanku, adik kecilku Meutia kelak akan tumbuh menjadi wanita muslim unggulan yang berkontribusi bagi kemajuan umat Islam dan bangsa. Insya Allah.

Note: Tulisan ini aku tujukan untuk ketiga adik kecilku yang masih imut-imut: Ilyas Ramadhan, Anton Widodo & Lintang Yusmita.

Menjelang Hari Valentine, 11 Februari 2014

***

2 thoughts on “Ketika Adikku Bertanya Apa itu Hari Valentine

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s